Media Aksara

Catatan Guru Bahasa

Merangsang Aktivitas Baca-Tulis Siswa melalui Mading Sekolah

Oleh Sabjan Badio & Siska Yuniati

Majalah dinding atau mading merupakan media komunikasi yang telah dikenal lama oleh masyarakat. Mading tidak hanya dibuat oleh siswa di sekolah, namun juga diciptakan dan dikonsumsi oleh masyarakat umum.

Saat mendengar kata mading, sesuai kepanjangannya, majalah dinding, tentu saja yang terbayang dalam benak kita adalah majalah yang terpasang di dinding. Anggapan itu tidak keliru karena prinsip dasar yang ada pada mading layaknya pada majalah. Penyajiannya menggunakan media papan (tripleks, karton, gabus, atau bahan lain) yang dipampang pada dinding. Rubrik-rubrik mading sama dengan rubrik-rubrik majalah. Tata letak mading juga tidak jauh berbeda dengan majalah pada umumnya, hanya saja dalam mading lebih sederhana, semua rubrik ditempatkan pada satu halaman atau muka saja.

Materi mading itu sendiri, menyesuaikan tempat mading itu berada. Mading yang ditempatkan di sekolah tingkat SMP/MTs dan SMU/MA berisi tulisan-tulisan yang disesuaikan dengan karakter sekolah-sekolah tersebut. Selain tulisan, mading juga dilengkapi gambar, misal karikatur atau gambar lain. Hanya saja, untuk tingkat tersebut tulisan tetap lebih dominan. Sementara itu, pada jenjang pendidikan yang lebih rendah, seperti SD dan TK, gambar lebih dominan daripada tulisan.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Filed under: Bahasa Indonesia, , ,

Rehat dengan Menulis

Senangnya jadi guru, kalau proses pembelajaran di kelas sukses: siswa aktif dalam belajar, pembicaraan dua arah, serta menghasilkan pemahaman baru. Guru belajar, siswa juga tambah pintar.

Susahnya jadi guru, kalau proses pembelajaran di kelas terasa loyo: siswa mengerjakan tugas tidak selesai-selesai, guru ngomong sendiri, siswa ngomong dengan siswa lain. Duh, rasanya jarum jam di dinding tidak jalan-jalan. Bel dari kantor juga tidak segera berbunyi. Lama-lama, kantuk juga yang menyergap. Kalau sudah begini, salah siapa?

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Bahasa Indonesia, Catatan, ,

Belajar Menulis atau Praktik Menulis?

Saat menempuh sekolah guru beberapa tahun silam, saya mengikuti mata kuliah menulis (wajib) dan ditawari kuliah jurnalistik (lamanya dua semester). Saat itu, terbersit dalam benak saya untuk menjadi seorang wartawati. Apalagi, menurut penurutan pejabat yang berwenang, para peserta kuliah jurnalistik akan diberi sertifikat khusus. Selain itu, mata kuliah tersebut juga akan dimasukkan pada nilai akademik.

Apa yang saya dapati kemudian? Seperti biasa, saya mendapatkan teori-teori, saya diminta menulis feature, saya diminta menulis opini, dan sebagainya. Ada yang dilupakan, para dosen lupa untuk menunjukkan mana opini yang sebenarnya, mana feature yang sebenarnya yang dimuat di koran atau majalah. Satu lagi, beberapa dosen bahkan lupa untuk menulis di surat kabar. Bagaimana bisa seorang yang tidak pernah menulis di surat kabar mengajarkan mata kuliah menulis dan jurnalistik?

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Bahasa Indonesia, Catatan, ,

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

Sedang Online