Media Aksara

Catatan Guru Bahasa

Cinta Seorang Pengarang

Oleh Siska Yuniati

Entah sampai kapan ibuku akan menanyakan hal yang sama, “Kapan kau menikah Han?” Begitu, beliau tuliskan dalam suratnya yang lalu.

Usia 27 tahun memang belum terlalu tua untuk ukuran kota. Tapi, untuk ibu, aku tak sanggup membayangkan canting di tangannya melukis resah. Kemudian, dalam suratnya yang lain beliau menuliskan demikian, “Atau ibu carikan saja Han…?”

Mungkin itu harapan seorang ibu pada anaknya yang sudah seusia canting batik belum juga berumah tangga. Ada benarnya mungkin. Aku sendiri tidak tahu perempuan mana yang tepat untuk diajak mengarungi hidup bersama. Apa mungkin seperti Fathimah dalam surat-surat ibu, ataukah seperti Rosnalisa?

Rosnalisa…. Nama itu muncul begitu saja bersama datangnya gerimis. Usianya masih belasan tahun, kuliah pun dia belum.

Suatu malam, dalam sebuah kafe kecil, kami hanya teman ngobrol menghabiskan jenuh. Tidak ada yang tahu siapa yang memulai, yang pasti kemudian kami menjadi sahabat. Berlanjut ketika ia sering hadir dalam pondokku, menemaniku merampungkan sebait puisi, atau sekadar membincangkan apa yang ada. Hingga tiba-tiba dengan bibir uniknya ia memohon. “Satu cerita saja. Aku tahu di penamu kau kuasa membuat segalanya.” Permintaan yang tidak biasa ia lontarkan.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Filed under: Catatan,

Bercengkerama Senja di Stasiun Bantul

Oleh Siska Yuniati

Seorang lelaki masuk ke pekarangan rumahku begitu pagar kubuka. Lelaki dengan topi dan jaket itu tersenyum. Aku membalas senyumnya kemudian menerima selembar amplop dari tangannya.

“Ibu Rosita?”

“Ya, benar.”

Lelaki itu mengulurkan sebuah amplop dan lembaran kertas kepadaku, “Maaf Bu, tolong tanda tangani bukti penerimaan ini.”

Aku pun menggoreskan tinta pulpen pada kertas itu. Pulpen yang aku pinjam dari lelaki itu juga. Ah, betapa baiknya dia.

“Terima kasih Bu.”

Aku mengangguk. O, o, o… dunia menjadi cerah di langit hati. Anyelir dan mawar yang berderet di kiri-kanan teras rumah juga menjadi lebih beraroma dan memabukkan mata.

Sebuah surat dari Johana, sahabat lamaku. Surat yang dikirim dengan jasa perusahaan pengiriman. Bagiku itu sangat istimewa untuk perempuan seusiaku. Usia 60 tahun dengan kulit yang berkerut-kerut dan kaca mata yang sering mlorot di ujung hidung. Lebih parah lagi kalau aku lupa menaruh kaca mata itu, kemudian melontarkan pertanyaan kepada suamiku.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Catatan,

Rindu Ibu

Oleh Siska Yuniati

“Berr …!” Angin masuk dari jendela yang baru saja kubuka. Sejuk, merasuk ke dalam setiap pori-poriku. Kurebahkan tubuh di atas kasur. Ingin sekali aku berhibernasi, tidur berbulan-bulan seperti beruang. Melupakan semua rutinitas hidup dan terjaga setelah keadaan berubah, saat di mana aku terlahir kembali sebagai putri raja. Ah, kapankah itu? Perlahan aku memajamkan mata.

“Tok… tok… tok….”

“Is…. Aisyah…. Bangun…!”

Kucoba membuka mata, tapi tertutup kembali.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Catatan,

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

Sedang Online