Media Aksara

Catatan Guru Bahasa

Mengenal Pendidikan Tinggi Jarak Jauh di Indonesia

Siska Yuniati

Pelayanan dalam bidang pendidikan merupakan satu di antara tugas pemerintah seperti yang diamanatkan undang-undang. Untuk mewujudkan tanggung jawab tersebut, pemerintah secara bertahap mengembangkan pendidikan di tanah air, mulai dari mendirikan sekolah-sekolah baru hingga berusaha meningkatkan kualitas kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

Pelayanan pendidikan ini juga dilakukan sampai jenjang perguruan tinggi, bahkan pascasarjana. Hingga saat ini, telah berdiri 104 perguruan tinggi negeri di tanah air (dikti.go.id), sementara untuk perguruan tinggi swasta jauh lebih banyak dari jumlah tersebut. Di antara perguruan tinggi tersebut, ada yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh dengan cara membuka kelas-kelas khusus di beberapa daerah. Hal ini didasarkan pada Permendiknas No. 24 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) oleh Perguruan Tinggi.

Namun, hingga saat ini, terdapat banyak permasalahan dalam penyelenggaraan perkuliahan jarak jauh. Permasalahan-permasalahan tersebut membuat persepsi dan kepercayaan masyarakat menurun. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa perguruan tinggi yang membuka kelas jarak jauh identik dengan perguruan tinggi yang kesulitan mencari mahasiswa sehingga terpaksa membuka kelas jarak jauh. Bahkan, beberapa perguruan tinggi berskala internasional terbukti merupakan perguruan tinggi abal-abal. Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sekadar untuk kedok program yang sesungguhnya, yaitu jual-beli ijazah.

Munculnya perguruan tinggi abal-abal yang berkedok penyelenggara program pembelajaran jarak jauh menimbulkan dilema pada masyarakat. Di satu sisi, masyarakat, terutama mereka yang tidak bisa mengikuti perkuliahan tatap muka secara rutin membutuhkan lembaga pendidikan tinggi jarak jauh. Di sisi lain, masyarakat masih ragu dengan kualitas lembaga penyelenggara. Keraguan ini tidak terlepas pula dari diakui atau tidaknya ijazah yang dikeluarkan oleh lembaga tersebut.

Permasalaha itulah yang mungkin hendak dijawab oleh Universitas Terbuka. Lembaga yang penyelenggaraannya “disponsori” oleh pemerintah ini secara konsisten sejak tahun 1984 menyelenggarakan pendidikan jarak jauh. Di usia ke-30 di tahun 2014 ini, perguruan tinggi negeri yang berpusat di Tangerang Selatan ini tercatat telah memiliki 37 UPBJ-UT  di 33 provinsi di Indonesia. Hingga saat ini, mahasiswa aktif di Universitas Terbuka, baik mereka yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri tercatat 433.763 (ut.ac.id) mahasiswa. Melihat jumlah mahasiswa, luas jangkauan pelayanan, jumlah UPBJ-UT, jumlah pendidik dan tenaga kependidikan, menjadikan Universitas Terbuka sebagai satu di antara universitas besar di dunia.

Besarnya jumlah mahasiswa tersebut menunjukkan kepercayaan masyarakat kepada Universitas Terbuka. Sebagai perguruan tinggi yang dibiayai oleh pemerintah, penyelenggaraan Universitas Terbuka tidak bergantung kepada kuantitas mahasiswa. Sedikit ataupun banyak jumlah mahasiswa, pelayanan pendidikan harus tetap berjalan.

logo-UT

Logo Universitas Terbuka

Bagaimana Perkuliahan Diselenggarakan?

Ada dua prinsip utama yang dianut oleh Universitas Terbuka, yaitu terbuka dan pembelajaran jarak jauh. Kita tahu bahwa Universitas Terbuka tidak pernah membatasi usia pendaftar dan tahun terbit ijazah pendaftar. Universitas Terbuka juga tidak pernah mempermasalahkan masa studi mahasiswa. Hal seperti inilah yang dimaksud dengan prinsip terbuka dalam penyelenggaraan Universitas Terbuka. Sementara itu, yang dimaksud dengan pembelajaran jarak jauh adalah bahwa pembelajaran tidak semata diselenggarakan di gedung universitas terbuka di Tangerang Selatan. Universitas terbuka juga membuka kelas-kelas perkuliah di seluruh wilayah Indonesia dan luar negeri. Kelas-kelas perkuliahan tersebut dikoordinasi oleh UPBJ-UT  seluruh Indonesia.

Oleh karena perkuliahan dilaksanakan jarak jauh, mahasiswa tidak harus datang ke Tangerang Selatan, bahkan ke UPBJ-UT.  Mahasiswa datang ke UPBJ-UT  hanya untuk kepentingan tertentu, bukan untuk perkuliahan reguler. Perkuliahan reguler universitas terbuka diikuti mahasiswa secara mandiri. Mahasiswa mendapat modul untuk tiap-tiap mata kuliah dan tiap-tiap materi dalam mata kuliah. Pada sesi tertentu, mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan tatap muka, khususnya ketika mengalami kendala dalam memahami materi perkuliahan.

Profil Universitas Terbuka di Youtube

 Seiring dengan perkembangan teknologi, Universitas Terbuka juga menyelenggarakan kelas online. Berkaitan dengan kelas online ini, mahasiswa dapat mempelajari materi yang tersaji secara online. Selain itu, mahasiswa dapat berkomunikasi langsung dengan staf pengajar yang mengampu mata kuliah yang sedang diikutinya. Dengan program online ini, proses kuliah mahasiswa akan lebih mudah, efektif, dan efisien.

Hal yang menjadi catatan bagi mahasiswa Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) adalah permasalahan kemandirian dan kedisiplinan mahasiswa. Tanpa adanya kedua unsur ini, akan sulit bagi mahasiswa PJJ untuk menyelesaikan studinya. Kuliah di Universitas Terbuka bukanlah “formalitas”, melainkan terdapat sistem pengawasan yang memastikan standar pelayanan minimal pendidikan berjalan dengan baik. Dengan adanya kemandirian dan kedisiplinan, sangat mungkin serapan ilmu pengetahuan dan prestasi mahasiswa Universitas Terbuka tidak kalah bersaing dengan universitas pada umumnya.[]

Iklan

Filed under: Catatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

Sedang Online

%d blogger menyukai ini: