Media Aksara

Catatan Guru Bahasa

Membersamai Penderita Tuberkulosis

Siska Yuniati

Penyakit menular, apa pun itu, senantiasa menjadi momok bagi masyarakat Indonesia. Pemikiran seperti ini biasanya diikuti oleh tindakan menghindari para penderita. Adanya stigma bahwa penderita penyakit menular berbahaya membuat kita memperlakukan penderita secara berlebihan. Kita tidak berusaha mencari tahu, apa saja yang menyebabkan dan bagaimana penularan terjadi. Sebagian penyakit menular karena bersentuhan langsung, sebagian yang lain dapat menular melalui perantara udara yang tercemar oleh karena aktivitas bernafas, batuk, dan bersin penderita. Peristiwa yang sering terjadi, seketika mengetahui seseorang berpenyakit menular, kita lantas memutus hubungannya dengannya.

Menciptakan simpati apalagi empati pada diri seseorang bukanlah perkara mudah. Jangankan atas orang lain, menghadirkannya pada diri sendiri saja bukanlah perkara mudah. Di antara cara yang efektif untuk menghadirkan rasa simpati dan empati pada diri sendiri adalah dengan memosisikan sebagai penderita. Dengan memosisikan diri sebagai penderita, kita dapat membayangkan, bagaimana seandainya kita yang sedang menderita penyakit yang memerlukan pengobatan serius justru dijauhi oleh keluarga dan lingkungan. Kita dapat membayangkan bagaimana seandainya tidak ada yang mau mengantar dan menemani berobat. Kita dapat membayangkan apa yang terjadi jika saat mengantre obat tidak ada yang mau berdekatan dengan kita. Kita pun dapat membayangkan bagaimana raut muka seseorang yang seketika menjadi khawatir bahkan ketakutan mengetahui penyakit kita.

Untuk menghindari hal tersebut, langkah awal yang perlu dilakukan adalah memahami karakteristik tuberkulosis. Secara umum, karakteristik tuberkulosis adalah sebagai berikut (tbindonesia.or.id).

  • Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis.
  • TB ditularkan melalui udara (melalui percikan dahak penderita TB).
  • Ketika seseorang yang sakit TB batuk, bersin, berbicara atau meludah, mereka memercikkan kuman TB atau bacilli ke udara. Seseorang dapat terpapar dengan TB hanya dengan menghirup sejumlah kecil kuman TB.
  • Seseorang yang terdiagnosa TB dengan status TB BTA (Basil Tahan Asam) positif dapat menularkan sekurang-kurangnya kepada 10-15 orang lain setiap tahunnya. Sepertiga dari populasi dunia sudah tertular dengan TB.
  • Sebagian besar pasien TB adalah usia produktif (15-55 tahun).
  • Seseorang yang tertular dengan kuman TB belum tentu menjadi sakit TB. Kuman TB dapat menjadi tidak aktif (dormant) selama bertahun-tahun dengan membentuk suatu dinding sel berupa lapisan lilin yang tebal. Bila sistem kekebalan tubuh seseorang menurun, kemungkinan mengidap TB menjadi lebih besar.
  • Seseorang yang sakit TB dapat disembuhkan dengan minum obat sesuai standar selama 6-8 bulan

Berdasarkan informasi tersebut dapat diketahui bahwa penyakit TB tidak serta-merta menular tatkala kita berhubungan dengan penderita TB. Penularan hanya dapat terjadi ketika ada media yang mengantarkan kuman dari tubuh penderita ke tubuh orang lain. Pada uraian tersebut disebutkan bahwa di antara perantara efektif adalah udara yang sudah tercemar kuman TB. Menyebarnya kuman TB ke udara dapat melalui ludah, bersih, batuk, dan lain-lain. Jika udara yang terkontaminasi ini terhirup oleh orang lain, maka ada kemungkinan orang yang menghirup udara yang telah terkontaminasi tersebut tertular penyakit TB. Oleh karena itu, jika kita menderita TB atau mengetahui ada teman atau kerabat menderita TB, langkah terbaik adalah dengan memberikan pemahaman kepada penderita dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Tentu saja, dalam mengedukasi penderita dan orang-orang yang berada di lingkungannya dilakukan dengan yang cara baik. Penderita penyakit menular cenderung sensitif. Jika edukasi tidak dilakukan secara baik, bisa jadi penderita akan minder, rendah diri, atau justru marah karena merasa direndahkan.

Jika tidak memungkinkan melakukan edukasi sendiri, dapat meminta penderita datang ke fasilitas kesehatan untuk memeriksakan diri dan menerima penjelasan dari petugas kesehatan yang ada. Seperti telah disebutkan, jika dilakukan pengobatan selama 6-8 bulan, penderita TB dapat mengalami kesembuhan.

Kementerian Kesehatan RI sebagaimana tercermin pada visi, misi, strategi, dan nilai-nilai yang diacu dalam kaitannya dengan pelayanan masyarakat, menunjukkan kesejalanan dengan pemikiran tersebut. Kementerian Kesehatan memiliki komitmen dalam menciptakan masyarakat sehat berkeadilan yang diwujudkan melalui (1) peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, (2) perlindungan kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata bermutu, dan berkeadilan, (3) penjaminan ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan, dan (4) penciptaan tata kelola kepemerintahan yang baik.

Iklan TB Kementerian kesehatan RI

Adanya sinergi antara program pemerintah dengan kepedulian dari masyarakat, penangan penderita—bahkan tindakan preventif—tuberkulosis dapat lebih efektif. Secara formal, pada level lokal dan dunia sudah berdiri organisasi yang secara bersama-sama memerangi penyakit tuberkulosis. Sebagai masyarakat yang peduli, sudah saatnya kita turut aktif menunjukkan perhatian, baik dengan bergabung dengan organisasi atau program pemerintah maupun dengan memberikan perhatian dan edukasi pada keluarga dan lingkungan terdekat.

Iklan

Filed under: Catatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: