Media Aksara

Catatan Guru Bahasa

Becak Pun Harus Peduli Safety Riding

Siska Yuniati

Ilustrasi. Foto ANTARA/Noveradika

Sepintas lalu, becak adalah kendaraan bebas polusi nan nyaman ditumpangi. Itulah kesan yang saya dapatkan setiap menumpang becak. Sebagai warga Jogja, becak sangatlah akrab dalam pemandangan bahkan kehidupan sehari-hari saya.

Hanya saja, dibalik kenyamanan tersebut, ada hal menggelitik yang kerap saya rasakan. Beberapa tahun silam, ketika sedang hamil tua, kendaraan saya ditabrak becak. Waktu itu, lampu berwarna kuning, ketika saya mendekat, langsung merah. Sebagai warga yang taak berlalu lintas, saya pun langsung menghentikan kendaraan. Braaak! Tiba-tiba saja sebuah becak menabrak saya dari belakang. Sepertinya becak tersebut akan jalan terus walaupun lampu sudah merah dan mengira saya pun jalan terus.

Untunglah seorang polisi lalu lintas yang berjaga saat itu menolong. Tak urung omelan pun keluar dari mulut Pak Polisi. Tukang becak seolah tidak mendengar omelan tersebut, enak saja di melenggang. Memang, polisi Jogja agak kelabakan menangani tukang becak. Kalau kendaraan bermotor, gampang, tinggal sita saja surat-suratnya. Becak?

Ternyata, suami saya pun kerap merasakan hal senada. Saat jalan-jalan di Jalan Malioboro, dia sering hampir tertabrak becak. Saking seringnya, dia pun berkesimpulan bahwa kendaraan yang patut diwaspadai di Jalan Malioboro adalah becak, bukan sepeda motor, bukan pula mobil. Sepeda motor dan mobil akan langsung melambat bahkan berhenti ketika ada orang menyeberang. Sementara itu, pengendara becak biasanya tidak. Biasanya, bel dibunyikan ketika jarak sudah sangat dekat dengan tanpa melambatkan kendaraan.

Masalah safety riding sebenarnya bukan melulu urusan kendaraan bermotor, keselamatan berkendara juga urusan kendaraan tidak bermotor. Mungkin pengendara becak relatif aman dari bahaya kecelakaan, khususnya yang memiliki jalur khusus seperti Jalan Malioboro. Lantas, dengan begitu, apakah keselamatan pejalan kaki tidak dipertimbangkan?

Sayang sekali saya tidak memiliki data tentang kecelakaan becak. Jika didata, saya kira tidaklah sedikit, walaupun, mungkin, tidak sampai kepada angka kematian. Biarpun begitu, kecelakaan becak tetaplah kecelakaan lalu lintas, pastilah menimbulkan kerugian, paling tidak kerugian waktu.

Lalu, apa saja yang harus diperhatikan pengendara becak? Pertama, becak harus menaati rambu lalu lintas. Kedua, tidak kelebihan muatan. Ketiga, memperhatikan keselamatan pejalan kaki. Keempat, berjalan di jalur yang benar, jalur becak. Kelima, melengkapi peralatan keamanan atau keselamatan becak, seperti rem, bel, dan sebagainya.

Jika semua itu diperhatikan, saya yakin kesan becak sebagai kendaraan yang ramah dan aman akan tetap terjaga. Dengan begitu, eksistensi becak pun akan bisa dipertahankan, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.***

Iklan

Filed under: Catatan, ,

13 Responses

  1. Lidya berkata:

    hiks sudah lama tidak naik becak, disini tidak ada becak

  2. Yessi berkata:

    betul,mb… semua pengendara kendaraan termasuk becak dan sepeda harus mengerti dan memahami pentingnya safety riding 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: