Media Aksara

Catatan Guru Bahasa

Membaca dan Berdebat

Tradisi membaca di kalangan guru sepertinya memang masih rendah. Atau, jika itu salah, kemampuan memahami yang kurang? Entalah. Yang jelas, beberapa kali saya sempat beradu argumen tentang sertifikasi guru. Yang membuat saya sedih adalah bukan karena saya “kalah”, melainkan karena alasan “lawan” saya yang sepertinya diucapkan sekehendak hati. Padahal, apalagi mengenai sertifikasi guru, aturannya sudah tertuang jelas, dapat dibaca dan dipahami. Jadi, jika semuanya membaca dengan baik, perdebatan tidak akan terjadi.

Catatan ini bukan saya maksudkan untuk menentang perdebatan. Berdebat bukanlah hal buruk, bahkan debat dapat digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar. Masalahnya, yang salah itu bukan debatnya, tetapi cara kita berdebat. Kita sering berdebat tanpa data yang cukup, tanpa pengetahuan yang memadai. Dan, yang lebih penting lagi, kita sering merasa benar sendiri. Yang terakhir inilah yang paling berbahaya.

Bagi saya, debat itu bukan semata untuk menunjukkan diri kita benar. Debat justru untuk mencari kebenaran itu. Debat berfungsi menguji pendapat dan pengetahuan kita, jika terbukti kita bisa bertahan, berarti pendapat kita benar. Tetapi, jika ternyata dapat dipatahkan oleh argumen lain yang berdasar atas fakta tak terbantahkan, berarti pendapat kita lemah.

Iklan

Filed under: Bahasa Indonesia, Catatan,

4 Responses

  1. arif berkata:

    selamat jadi pemanang ISBA 2010 mingguan šŸ˜€

  2. Betul bu saya setuju pendapat itu šŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: