Media Aksara

Catatan Guru Bahasa

Jaminan Kesehatan untuk Guru

Sebagai seorang guru PNS, saya mendapatkan asuransi kesehatan dari PT Askes. Kabarnya, untuk rawat inap di rumah sakit pemerintah, saya berhak mendapatkan pelayanan kelas satu (sesuai golongan saya).

Minggu lalu, saya periksa ke dokter keluarga, diminta membayar dengan jumlah tertentu dengan alasan tidak semua obat ditanggung oleh PT Askes. Seminggu kemudian, (kemarin, 15/02), saya kembali karena belum sembuh. Pada kunjungan kedua, saya digratiskan, karena semuanya ditanggung oleh PT Askes. Terus terang saya agak terkejut, selama ini, di dokter tersebut, saya tidak pernah bisa berobat gratis. Sebelum pulang, dokter memberi saya surat rujukan untuk periksa darah di RSUD P.

16 Februari 2010, pukul 03.00 dini hari. Perut saya mual-mual, saya muntah sampai enam kali. Setelah diisi minuman, langsung muntah. Tubuh terasa begitu lemas. Merasa tidak kuat, saya pun berangkat ke RSUD P. Sesampai di sana, saya hanya ditemui oleh perawat dan dokter muda (calon dokter yang dikirim oleh Unversitas X).

Petugas menyarankan untuk rawat inap, tetapi, tidak bisa dilakukan sebab semua bangsal penuh. Tanpa diberi obat apa pun, saya pun disarankan untuk datang ke Puskesmas S. Mereka hanya memberi alternatif tersebut dan satu rumah sakit swasta P. Sementara, untuk rumah sakit swasta M, mereka katakan tidak ada kamar, termasuk RS M yang ada di Jogja.

Saya pun memilih Puskesmas S, sesuai dengan keterangan yang saya dapat di UGD RS P, di Puskesmas S ada pelayanan rawat inapnya. Sesampai di puskesmas, saya pun kecewa, ternyata pintu dikunci, menunjukkan bahwa mereka tidak biasa menerima “tamu” malam hari. Dilayani beberapa saat, saya pun memutuskan untuk tidak jadi dirawat di sana. Alasannya, (1) masalah Askes, hanya dijamin lima puluh ribu per hari, berapa pun biaya yang kita keluarkan dan (2) masalah pelayanan yang kelihatannya kurang memuaskan, dokter baru ada pukul delapan dan laboratorium pun baru buka pada jam yang sama. Saya pulang dari Puskesmas Sdengan bekal beberapa butir obat mual.

Sepulang dari Puskesmas S, saya berangkat ke RS M, yang menurut dokter di RSUD P, penuh. Sesampai di sana, saya pun langsung ditangani oleh dokter. Suami saya pun menyelidik, apa benar di sana tidak ada kamar? Mereka pun balik bertanya, “Siapa yang bilang?” Ternyata di sana ada kamar.

Kemudian, suami saya menuju ke loket pendaftaran. Selain mendaftar, suami saya pun menanyakan tentang layanan Askes yang katanya ada di RS tersebut. Petugas hanya bilang Askes hanya untuk hal-hal darurat, seperti kecelakaan. Lha, bukankah kedaruratan sakit tidak ditentukan oleh penyebabnya? Mengapa hanya untuk mereka yang kecelakaan?

Kemudian, kami kembali menghadap dokter. Ternyata, diagnosa dokter yang satu ini berbeda, saya tidak diminta rawat inap, melainkan rawat jalan.

Begitulah. Semoga saya cepat sembuh dan sehat selalu hingga tak perlu pontang-panting seperti ini lagi.

Iklan

Filed under: Catatan,

9 Responses

  1. […] Read more… Kategori tulisan: Asuransi Kesehatan, kesehatan Post Tags: browseby-topic, bukan-sekadar, hobi, indonesia, media-aksara, mengenal-siswa, puisi, puskesmas, sabjan-badio, siska, siska-yuniati Cancel Reply […]

  2. drummerfan berkata:

    emang udah hampir tiap hari para pengguna kartu askes selalu dianaktirikan. padahal mereka juga membayar untuk biaya pengobatan tersebut

    • siska yuniati berkata:

      Bekerja dalam bidang jasa, pelayanan kepada masyarakat memang berat. Namun, prinsipnya tak berbeda dengan spesifikasi pekerjaan lain, jika dikerjakan secara profesional, bertanggung jawab, semuanya akan menjadi baik.

      UGD atau IGD dihadirkan untuk pelayanan darurat. Maka, sudah seharusnya setiap pasien yang masuk ke ruang UGD atau IGD langsung ditangani, tidak peduli ada atau tidaknya ruang kosong di bangsal. Oleh karena itulah kita menyaksikan ada tempat tidur pasien, sekat-sekat, dan berbagai fasilitas untuk pertolongan pertama di ruang UDG atau IGD. Jadi, sangat aneh jika tim kesehatan yang bekerja tidak memberikan tindakan apa pun kepada pasien yang masuk ke UGD, apalagi justru menolaknya dengan alasan tidak ada ruang kosong di bangsal. Bagaimana jika pasien yang masuk itu ternyata kritis?

      Jika UGD atau IGD bergantung ketersediaan bangsal, apa fungsinya? Hanya untuk kepentingan administratif? Seharusnya pasien baru dilempar ke bangsa setelah mendapat pertolongan pertama di ruang UGD atau IDG. Jika ternyata tidak ada ruangan kosong di bangsal, pasien kan bisa dirawat untuk sementara di ruang UGD/IGD? Namanya saja darurat.

      trims kunjungan dan komennya.

  3. yanti berkata:

    saya juga termasuk pengguna askes karena ikut suami yang PNS. Baru pertama kali menggunakan askes, tapi kapok! Ruwet dan bertele-tele, untung cuma pengen tahu birokrasi askes kek apa, jadi gak terlalu kecewa.coba kalo sakit beneran, bisa tewas sebelum ditangani dokter..

    • Sabjan Badio berkata:

      Peserta Askes sebenarnya juga bayar premi, namun seringkali pelayanan yang diberikan kurang memuaskan, agak dibedakan dengan pasien lain. Akan tetapi, sekali pun ada Askes yang benar-benar gratis dan memberikan pelayanan yang nyaman lebih baik tetap sehat.

  4. abughalib berkata:

    askes yang ada saat ini bukan meringankan beban pemegang askes tapi justru semakin berat, berat karena sakit hati dengan sistim pelayanan yang seenaknya.

    benar kata mba yanti, kalau masih ada budget lebih baik ke swasta sekalian biar bayar tapi ga tambah sakit hati.

    kalau menurut saya masalah askes ibarat lingkaran setan, pihak RS rujukan (rekomendasi) yang seharusnya melayani pemegang askes merasa keberatan dan enggan melayani dengan baik karena dana askes susah cairnya, dana susah cair karena ada permainan busuk oknum tertentu dst…

    semoga kita senantiasa berbesar hati dan sehat selalu

  5. Budisastro berkata:

    kenapa ya di negeri kita ini umumnya pelayanan publik tidak memuaskan
    makasih kunjungan di blog saya

  6. Siska Yuniati berkata:

    Sama-sama. Begitulah Pak, memang perlu berbenah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: