Media Aksara

Catatan Guru Bahasa

Melotot atau Tersenyum

Oleh Sabjan Badio

Siswa rame sendiri, siswa tidak mendengarkan guru, siswa bolos, siswa menyontek, itu di antara banyaknya persoalan yang dialami seorang guru saat di kelas. Ketika mengalami hal ini, sebagai seorang guru, apa yang Anda lakukan? Membentak? Melotot? Masa bodoh? Atau, justru tersenyum? Semua ekspresi tersebut dapat saja Anda pilih dan itu jamak terjadi.

Apa pun pilihan kita dalam menyikapi perilaku siswa, itu adalah hak. Walaupun begitu, apakah lantas kita boleh seenak hati memperlakukan siswa? Jelas tidak, ada banyak pertimbangan sebelum kita menentukan apakah akan marah atau tersenyum. Pertama, ada hak-hak siswa yang harus kita perhatikan. Sikap kita dalam menghadapi kenakalan siswa secara tidak langsung adalah bagian dari pendidikan itu sendiri. Para siswa akan belajar bagaimana cara menghadapi masalah. Jika kita menghadapi masalah dengan marah-marah, jangan salahkan para siswa jika mereka pun menjadi temperamen.

Kedua, kondisi kejiwaan erat kaitannya dengan kondisi jasmani. Ekpresi kemarahan, menunjukkan keadaan kejiwaan kita yang sedang labil. Dalam keadaan ini, seseorang akan mengalami peningkatan tekanan darah; jantung dipaksa memompa darah dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya dan dinding kapilernya akan mengalami pengerasan dan kehilangan kelenturan untuk mengembang sehingga pembuluh darah tidak dapat dilalui sejumlah darah yang dipompa oleh jantung.

Ketiga, melotot dan membentak hakikatnya sama, itu mencerminkan kemarahan kita. Jika kita membentak atau melotot, itu sama saja kita menendang para siswa tersebut, membuat mereka terpental jauh dan menjauhi kita. Dalam keadaan seperti ini, siswa justru memberontak. Sementara itu, senyuman berlawanan dampaknya. Senyuman dapat diibaratkan dengan rangkulan. Siswa yang rame, kita pandangani, kita dekati, kita panggil namanya, lalu kita beri senyum, akan merasa seolah-olah dirangkul, diterima, sekaligus diingatkan. Dengan begitu, biasanya mereka justru malu, dan berusaha tidak mengulangi lagi perbuatannya. Tentu saja, kita harus bijak, kita harus tahu betul, tatapan dan senyuman seperti apa yang pantas kita berikan. Jangan sampai senyuman kita diartikan lain oleh para siswa.

Sekarang, tinggal pilih, akan melotot-membentak-marah atau tersenyum?

Iklan

Filed under: Catatan,

2 Responses

  1. Umar Puja Kesuma berkata:

    Saya sukses menerapkan teknik ini untuk anak SMA, tapi untuk anak SMP, apalagi SD sepertinya perlu usaha lebih keras lagi. Sedikit susah menerapka teknik ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: