Media Aksara

Catatan Guru Bahasa

Target Menulis

Anak-anak yang merengek, pekerjaan yang tidak kunjung habis, waktu yang serasa begitu pendek, kelelahan, masalah finansial, sosial, suami, ada di antara permasalahan yang menghinggapi seorang wanita karier. Jika sudah begitu, mana sempat menulis? Tunggu dulu, jangan pernah mengatakan itu. Saya seorang guru, sebagian besar waktu produktif saya dihabiskan di sekolah. Sementara, saat pulang ke rumah, aktivitas lain sudah menunggu dan seolah tidak ada habisnya. Saat-saat seperti itu, saya selalu merasa punya hutang, yaitu menulis, dan saya harus menulis. Bagaimana caranya?

1. Alat Tulis Portable
Anak-anak adalah sosok yang tidak dapat saya lupakan. Mereka tidak cukup bermain sendiri, mereka butuh ditemani. Solusinya bagaimana? Ya, saya paling tidak harus memiliki alat tulis yang portable, entah itu hanya kertas buram, syukur-syukur laptop. Dengan begitu, kita bisa menyertai anak-anak bermain sembari menyalurkan hobi menulis kita. Alat tulis itu sebaiknya dibawa ke mana-mana. Dengan begitu, kita bisa langsung menulis saat kesempatan itu datang.

2. Menulis sambil Bermain
Anak-anak akan kecewa jika kita hanya duduk bak benda mati di sekitar mereka. Biasanya, dengan berbagai cara mereka akan berusaha menarik perhatian kita, entah dengan bertengkar, mengis, merengek, atau sekadar minta susu. Hal ini harus kita cermati. Kita tetap harus memberikan perhatian maksimal kepada anak-anak. Saat mereka terpuaskan, barulah kita kembali pada aktivitas menulis.

Di sini tantangannya sangat besar. Biasanya, kita sering larut bermain dengan anak-anak. Setelah bermain, kita pun kerap merasa capek dan malas untuk kembali menulis. Untuk itulah, kita harus disiplin, jika telah meniatkan untuk menulis, saat kesempatan itu ada, kita harus segera melakukannya.

3. Menulis di Waktu Senggang
Banyak teman-teman yang tidak menulis dengan alasan tidak punya waktu. Ini masalahnya, ketika mereka memiliki waktu, mereka tetap tidak menulis juga. Seorang penulis sejati, yang telah memproklamirkan dirinya sebagai seseorang yang hobi menulis, tidak akan menyalahkan objek lain atas ketidaklahiran tulisannya. Kesalahan murni ada pada diri kita, manajemen waktu atau kedisiplinan kita, dan semangat kita yang kurang.

Dengan alat tulis portable seperti yang telah dikemukakan di atas, kita dapat memanfaatkan waktu luang kita. Sebagai seorang guru, saya tidak full berada di kelas. Ada waktu-waktu tertentu untuk istirahat, jam sela. Jika begini, biasanya saya menyegarkan diri dengan mengobrol di ruang guru atau mengunjungi perpustakaan. Saat-saat seperti ini pun, tidak jarang saya dimanfaatkan untuk menulis.

Hanya saja, ada satu yang harus diingat, bahwa bukan berarti menjadi penulis kita harus menjadi orang yang kuper (kurang pergaulan). Menjadi penulis itu pergaulannya justru harus luas karena dari sana inspirasi bisa datang dan pergaulan yang luaslah yang bisa membuat tulisan kita lebih berbobot.

4. Menulis dengan Target
Semua langkah tersebut harus di-gong-i dengan target. Tanpa target, kita akan kembali menjadi pribadi yang berleha. Target akan sangat penting, akan membuat kita merasa tertantang, merasa wajib, menyelesaikan tulisan kita.

Mungkin masih banyak poin lain yang belum saya sampaikan di sini. Untuk itu, saya mengajak para senior untuk ikut melengkapi tulisan ini melalui menu komentar.

Iklan

Filed under: Bahasa Indonesia, Catatan,

10 Responses

  1. David berkata:

    Jika ditanya apa alat portable yang bagus, saya akan menjawab ponsel.
    Ia adalah teman saya. Bahkan untuk ngeblog pun, saya dibantu oleh ponsel.

    Saya blogger ponsel
    davidjuly.cz.cc

  2. TenagaSurya berkata:

    asSalaamu’alaykum,
    kami juga menggunakan ponsel. Tapi sayang, kami sempat kecewa dengan produk Nexian G900/proxl dan G911/indosat karena text-editor-nya hanya 512 huruf dan tidak ada copy-paste.
    Terlalu.
    http://tlts.wordpress.com

    • Siska Yuniati berkata:

      waalaikumssalam,
      begitulah, seharusnya ada deskripsi detail atas setiap produk yang ditawarkan. bukan keunggulan semata yang disajikan. agar, setelah membeli, konsumen tidak merasa tertipu dan kecewa.

  3. cetakbiruku berkata:

    Menulis, menulis dan menulis lagi…itu juga target saya…salam kenal…

  4. TenagaSurya berkata:

    asSalaamu’alaykum,
    lalu, apa benar, utk menulis perlu kesendirian?
    Sehingga ilham (bukan bang Ilham) dapat hadir?

    • Siska Yuniati berkata:

      Menurut saya manusia itu sangat unik, tiap orang punya kekhasan. Ada yang senang dengan kesunyian, ada pula yang senang dengan keramaian. Bahkan, ada yang bisa menulis dalam keadaan apa pun.

      Manusia itu telah dianugrahi kemampuan beradaptasi yang luar biasa bagus. Karena itu, saya yakin manusia bisa menyesuaikan diri dengan keadaan apa pun. Tinggal bagaimana kesediaan dan keseriusannya untuk menyesuaikan diri.

      Menulis itu tidak seperti orang bercerita, yang butuh pendengar. Menulis jauh lebih mudah, bahkan tidak harus ada pembacanya: contohnya, pada buku harian. Banyak bicara kurang bagus, banyak menulis justru bagus.

      Yang penting dari itu semua, bagaimana kita mendisiplinkan diri untuk menulis. Dengan begitu, semuanya akan menjadi mudah.

      Sekadar pendapat. Mohon masukan jika kurang pas.

  5. TenagaSurya berkata:

    asSalaamu’alaykum,
    masya Allah, kami sampai merinding ketika membaca ulasan ukhti di atas.
    syukron, kami merasa perlu menyerap banyak hal dari blog ukhti ini.
    semoga ukhti tak terganggu dgn seringnya kehadiran kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: