Media Aksara

Catatan Guru Bahasa

Rehat dengan Menulis

Senangnya jadi guru, kalau proses pembelajaran di kelas sukses: siswa aktif dalam belajar, pembicaraan dua arah, serta menghasilkan pemahaman baru. Guru belajar, siswa juga tambah pintar.

Susahnya jadi guru, kalau proses pembelajaran di kelas terasa loyo: siswa mengerjakan tugas tidak selesai-selesai, guru ngomong sendiri, siswa ngomong dengan siswa lain. Duh, rasanya jarum jam di dinding tidak jalan-jalan. Bel dari kantor juga tidak segera berbunyi. Lama-lama, kantuk juga yang menyergap. Kalau sudah begini, salah siapa?

Barangkali salah guru, karena belum menemukan cara yang tepat untuk mentransfer ilmu. Barangkali salah siswa karena malas untuk belajar. Atau, waktu untuk belajar yang kurang bagus sehingga malapetaka ini terjadi. Hal demikian sering terjadi pada jam-jam terakhir. Udara gerah, rasa lelah, serta perut yang sudah keroncongan membuat kondisi guru dan siswa tidak siap untuk belajar.

Kalau sudah begini, yang paling bagus adalah beristirahat. Akan tetapi, kalau jam pelajaran masih berlangsung, tentu bukanlah tidur pilihannya. Kiranya dengan menulis menjadi kegiatan efektif untuk mengembalikan konsentrasi siswa.

Cara ini saya gunakan saat kondisi kelas kurang mendukung untuk belajar. Di tengah-tengah kegiatan belajar yang kacau, saya lantang bersuara: Anak-anak, sediakan selembar kertas kosong, catatan mohon ditutup atau disimpan dalam laci kalian! Mendengar intruksi semacam itu, siswa yang terkantuk-kantuk jadi bangun, siswa yang ngobrol dengan temannya jadi terdiam, siswa yang dari tadi memperhatikan pelajaran jadi tegang. Umumnya mereka mengira akan ada ulangan dadakan.

Silakan tulis apa saja yang ada dalam pikiran kalian saat ini. Semuanya boleh dituliskan. Tidak perlu malu-malu karena tidak akan dibaca orang lain, termasuk saya. Waktu lima menit dari sekarang. Mereka pun mulai menulis, sementara saya berkeliling kelas, memastikan semuanya menulis.

Setelah waktu lima menit itu, sebagian siswa ada yang sudah selesai dengan tulisannya sebagian lagi minta tambahan waktu. Saya minta siswa untuk membaca sekali lagi tulisan mereka kemudian menyimpannya dalam tas. Acara selanjutnya melanjutkan pelajaran.

Iklan

Filed under: Bahasa Indonesia, Catatan, ,

8 Responses

  1. mobil88 berkata:

    Anda luar biasa..teruslah menulis !!
    http://mobil88.wordpress.com

  2. David berkata:

    Itu strategi yang bagus. Aku mengenalnya sebagai sebuah pendekatan yg oleh John Keller disebut dengan ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction)

    Salam dari sesama pengajar, kawan!
    davidjuly.cz.cc

  3. hahn berkata:

    wah strateginya bagus..
    tapi kalau diterapkan di pelajaran matematika bisa nggak yah? hehe

    apa disuruh mengarang tentang matematika? hehe…

    makasih mbak sudah berkenan mampir ke blog sederhana saya 😀

    • Siska Yuniati berkata:

      menulis kan masuk bagian pelajaran bahasa Indonesia. matematika, punya cara sendiri, saya yakin banyak metode praktis yang menyenangkan dari pembelajaran matematika. itu dapat diterapkan.

      terima kasih atas kunjungannya.

  4. rumahblogger berkata:

    hmm.., memang sih.., peran guru dalam mengajar memang menentukan hasil yang didapat siswa. jika serius terus, biasanya bikin bosen….,
    salam kenal ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: