Media Aksara

Catatan Guru Bahasa

Belajar Menulis atau Praktik Menulis?

Saat menempuh sekolah guru beberapa tahun silam, saya mengikuti mata kuliah menulis (wajib) dan ditawari kuliah jurnalistik (lamanya dua semester). Saat itu, terbersit dalam benak saya untuk menjadi seorang wartawati. Apalagi, menurut penurutan pejabat yang berwenang, para peserta kuliah jurnalistik akan diberi sertifikat khusus. Selain itu, mata kuliah tersebut juga akan dimasukkan pada nilai akademik.

Apa yang saya dapati kemudian? Seperti biasa, saya mendapatkan teori-teori, saya diminta menulis feature, saya diminta menulis opini, dan sebagainya. Ada yang dilupakan, para dosen lupa untuk menunjukkan mana opini yang sebenarnya, mana feature yang sebenarnya yang dimuat di koran atau majalah. Satu lagi, beberapa dosen bahkan lupa untuk menulis di surat kabar. Bagaimana bisa seorang yang tidak pernah menulis di surat kabar mengajarkan mata kuliah menulis dan jurnalistik?

Setelah diingat-ingat, ada satu dosen yang mengajarkan mata kuliahnya secara praktis. Waktu itu, beliau tunjukkan bagaimana tulisan media massa, beliau tunjukkan tulisan-tulisannya yang dimuat di media, beliau ajarkan bagaimana mengenali karakteristik media massa. Saya kira dosen yang satu inilah yang hadir dengan bekas mendalam dari pelajaran jurnalistik selama dua semeter itu. Sayang beliau pindah terlalu cepat.

Kemudian, setelah saya lulus kuliah, apa yang terjadi? Ternyata saya tidak tahu apa-apa tentang surat kabar, ternyata saya tetap tidak bisa menulis di media massa. Ternyata saya tidak mendapatkan sertifikat yang dijanjikan. Ternyata saya tidak menjadi wartawati, melainkan seorang guru bahasa di Departemen Agama.

Nasib mengantarkan saya pada seorang lelaki, teman hidupku. Kami belajar bersama, menelaah media bersama, menulis bersama. Apa yang saya dapatkan? Alhamdulillahm beberapa tulisan bisa nampang di media.

Dari pengalaman ini, saya berkesimpulan, jangan pernah menjadikan kegiatan perkuliahan sebagai sandaran kita menjadi terampil, menjadi sukses. Perkuliahan hanyalah tambahan, selain untuk legalitas. Kemampuan sesungguhnya kita dapat dari pembelajaran praktis yang harus kita usahakan sendiri, dengan kesungguhan, dengan kedisiplinan. Jadi, ingin menulis di media, ya tulis saja, pelajari saja sendiri: teori di perkuliahan hanyalah referensi.

Iklan

Filed under: Bahasa Indonesia, Catatan, ,

13 Responses

  1. hahn berkata:

    wah betul bu…
    saya aja di kuliahan nggak diajarin cara menulis (di matematika ngga ada matakuliah jurnalistik heuheu), akhirnya saya jadi wartawan, karena aktif di persma 😀

    nggak banyak teori, tapi banyak praktek dan diskusi 😀

    salam kenal..

  2. David berkata:

    Saya sangat setuju. Saya sering muak dengan pengajar teoritis. Mereka hanya menerangkan bla bla bla tapi tidak pernah menunjukkan benda nyatanya atau bahkan melakukannya dan mengajak untuk mempraktekkannya. Inilah yg membuat kita tak dapat apa-apa. Kalau ingin dapat berenang maka terjunlah ke air dan bila mau bisa menulis maka menulislah.

    Salam, Kawan

  3. Cyber Katrox berkata:

    Kalau saya pilih belajar menulis sambil praktek menulis.Salam kenal.

  4. Pratik menulis, karena selama kita praktik menulis lama-lama menulis menjadi lancar. Tapi jangan lupa untuk belajar menulis juga untuk meningkatkan kualitas tulisan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

Sedang Online

%d blogger menyukai ini: