Media Aksara

Catatan Guru Bahasa

Obrolan di Ruang Guru

“Lagi baca apa Bu?” tanya seorang guru suatu ketika. “Ini, lagi lihat tulisan saya, dimuat di majalah,” ujarku. Obrolan sejenis itu sangat jarang terjadi di ruang guru itu. Biasanya, yang menjadi topik obrolan adalah masalah kenakalan siswa, susu yang digunakan anaknya, pakaian, dan berbagai hal lain sampai ke topik-topik yang tak layak dibicarakan oleh guru di ruang guru.

Mengenai tulis-menulis, aku kerap merasakan tanggapan sinis dari teman-teman guru. Di antara mereka ada yang beranggapan bahwa menulis itu tidak perlu, penghasilan seorang guru PNS cukup bagi mereka. Di ini aku melihat sesuatu yang berbeda, bagiku menulis bukan sekadar menambah penghasilan, menulis adalah hobi, menulis adalah prestasi. Sebuah kebanggakan akan terwujud saat tulisan kita terpampang di sebuah majalah, koran, atau media lain.

Sebagai seorang guru baru, mengubah pola pikir teman-teman guru bukanlah tindakan yang terbayangkan. Aku tidak mungkin melakukan itu jika tidak ingin dianggap sebagai anak kemarin sore yang sok tahu. Oleh karena itu, aku terpaksa mengikuti obrolan mereka, hanya sekali-sekali pada orang-orang tertentu saja aku mengungkap ikhwal menulis. Dalam kondisi seperti itu, aku justru semakin rajin menulis, pembuktian bagiku, untuk tidak sekadar unjuk kata.

Sejak saat itu, aku semakin aktif mengelola www.bahasasiswa.do.am (www.bahasasiswa.com) –namun sayang, blog ini (mediaksara.wordpress.com/mediaksara.bahasasiswa.com) agak terbengkalai. Sedikit demi sedikit aku menulis, satu-satu perlombaan kuikuti, satu-satu tulisanku kukirim ke media massa.

Alhamdulilalh, beberapa tulisanku berhasil memenangkan perlombaan. Bahkan domain www.bahasasiswa.com kuperloleh dari perlombaan itu. Aku pun pernah meraih juara satu lomba menulis cerpen yang pesertanya tak dibatasi masalah geografis. Seiring dengan itu, tulisanku pun semakin kerap hadir di media massa (majalah).

Apa yang terjadi kemudian? Fantastis! Aku tidak perlu mengumbar topik tulis-menulis lagi, para guru lain datang padaku tentang topik tulis-menulis.Bahkan, guru yang berprinsip bahwa gaji saja sudah cukup pun berubah, walau pun tidak menulis sepertiku, beliau sudah merintis usaha lain sebagai sampingan untuk pengisi waktu senggang di kala tidak mengajar. Sejak itu, anak kemarin sore ini pun mulai didengarkan.***

Iklan

Filed under: Catatan,

3 Responses

  1. hahn berkata:

    wah selamat bu…

    memang sangat jarang guru )bahkan dosen) yang suka nulis. apalagi punya blog 😀

  2. Sabjan Badio berkata:

    Pembuktian memang selalu lebih baik, apalagi kalau hanya dibandingkan dengan ‘bicara’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

Sedang Online

%d blogger menyukai ini: