Media Aksara

Catatan Guru Bahasa

Fungsi Rekreasi Perpustakaan dan Peningkatan Kemampuan Berbahasa Siswa

Oleh Siska Yuniati

Pernahkah anda mengamati pengunjung perpustakaan sekolah? Apa yang anda lihat? Jawabannya tentu beragam, ada perpustakaan yang ramai dikunjungi oleh para pembaca atau pencari informasi, ada perpustakaan yang ramai karena pengunjung ingin menonton televisi atau sekadar berkumpul dan ngobrol tak tentu arah, dan bahkan tidak sedikit perpustakaan yang sangat jarang mendapat kunjungan.

Menghadapi fenomena kurangnya kunjungan tersebut, (sangat disayangkan) kesalahan kerap dilemparakan kepada para siswa, yaitu lemahnya minat baca. Padahal, masalahnya tidak sesederhana itu, ada banyak faktor yang menjadi penyebab kurangnya kunjungan siswa ke perpustakaan.

Perpustakaan

Menurut Bafadal (1996: 30), perpustakaan adalah unit kerja dari badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa buku maupun non-buku (non-book material) yang diatur secara sistematis sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya. Sementara, UU No. 43 Tahun 2007 mengungkapkan bahwa perpustakaan merupakan institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi pemustaka. Perpustakaan dapat juga diterjemahkan sebagai pusat (pangkalan) data berbagai ilmu pengetahuan. Hakikatnya, perpustakaan merupakan media transformasi kultural, melalui perpustakaan hubungan antara ilmuan (penulis dan pengarang) dengan pembaca terasa lebih dekat.

Kenyataan yang menggembirakan, akhir-akhir ini industri perbukaan dan perpustakaan tumbuh pesat. Kehadiran perpustakaan konvensional hampir di setiap sekolah, mulai RA sampai MA, apalagi Universitas, bahkan mulai merambah ke arah perpusakaan digital. Namun, kenyataan tersebut tidak semuanya berfungsi maksimal karena sedikitnya jumlah kunjungan. Ke-belum-maksimal-an tersebut secara garis besar disebabkan dua faktor, yaitu minimnya koleksi dan kurang maksimalnya pengelolaan.

Minimnya koleksi merupakan permasalahan yang tak pernah tuntas. Hal ini memang bukan perkara mudah karena penambahan koleksi perpustakaan memang membutuhkan dana yang tidak sedikit serta berkesinambungan. Dana yang disediakan oleh pemerintah masih jauh dari cukup. Namun, hal tersebut tidaklah dapat dijadikan alasan untuk tidak mengembangkan koleksi perpustakaan. Ada banyak strategi yang dapat dilakukan, mulai mengirimkan proposal ke instansi-instansi, perusahaan-perusahaan umum, sampai penerbit-penerbit. Atau, seperti yang telah dilakukan Perpustakaan MTs Negeri Giriloyo, yaitu bekerja sama dengan Perpustakaan Daerah Bantul dengan cara mendapatkan kesempatan meminjam secara khusus. Pinjaman tersebut kemudian dijadikan koleksi sementara perpustakaan sekolah dan dapat dimanfaatkan semua pihak yang memerlukan.

Langkah lain yang telah banyak diterapkan adalah dengan meminta sumbangan kepada para siswa yang akan lulus dan melalui reuni alumni. Hal ini mungkin saja, itung-itung sebagai wujud tanda terima kasih siswa kepada perpustakaan yang telah dimanfaatkannya bertahun-tahun. Atau, melalui pertemuan alumi tersebut, dibuat kerjasama berupa pemberian kesempatan kepada para alumni untuk mengumpulkan bahan pustaka dengan cara sendiri. Kemudian, hasil yang didapat diserakan ke perpustakaan sekolah.

Penambahan koleksi tersebut hendaknya tidak terbatas pada buku dan terbitan berkala (koran, buletin, dan majalah). Koleksi poster, kaligrafi, makalah, skripsi, tesis, laporan penelitian, dan kaset juga harus dihadirkan. Selain itu, ada banyak media lain yang juga menjadi tuntutan layaknya buku dan terbitan berkala. Media-media tersebut berupa CD/DVD ROM, microfilm, e-book, dan internet. Sesuai perkembangan zaman, kehadiran internet menjadi keharusan. Sistem jaringan komputer global tersebut akan membuat perpustakaan semakin kaya karena melalui internet semua informasi bisa didapatkan hanya dalam hitungan detik. Untuk itu, perlu kerjasama dengan penyedia layanan internet kabel dan hotspot.

Yang lebih penting dari semua itu adalah pengelolaan secara menyeluruh. Selain pengadaan, banyak aspek lain yang harus diperhatikan, di antaranya pelayanan (termasuk peningkatan kualitas SDM) dan perawatan bahan pustaka. Perpustakaan yang dikelola dengan baik akan mudah mendapatkan simpati dan bantuan dari berbagai pihak.

Fungsi Rekreasi

Rekreasi adalah penyegaran kembali badan dan pikiran, dapat juga dikatakan sesuatu yang menggembirakan hati dan menyegarkan seperti hiburan dan piknik (KBBI). Berdasarkan pengertian dan fungsi perpustakaan yang tertuang dalam UU No. 23 Tahun 2007, salah satu fungsi perpustakaan adalah rekreasi. Fungsi rekreasi yang dimaksud adalah rekreasi kultural.

Fungsi rekreasi tersebut tentu saja tidak terlepas dari tujuan utama perpustakaan, yaitu melestarikan hasil budaya umat manusia, khususnya yang berbentuk dokumen karya cetak dan karya rekam lainnya, serta menyampaikan gagasan, pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan umat manusia itu kepada generasi-generasi selanjutnya. Pengembangan fungsi rekreasi berarti melengkapi fungsi utama perpustakaan, yaitu agar perpustakaan terasa lebih menarik dan menghibur (www.pdii.lipi.go.id).

Fungsi rekreasi ini dicapai tidak hanya dengan cara menghadirkan bacaan-bacaan yang menyegarkan, lebih dari itu juga melalui fasilitas gedung yang nyaman dan refresentatif, ruangan dan interior yang mendukung, termasuk menghadirkan berbagai fasilitas seperti ruang dengan home teater untuk media audio visual, musik di ruang baca, serta pelayanan yang ramah dan bersahabat. Khusus perpustakaan-perpustakaan besar seperti perpustakaan daerah, alangkah baiknya jika disertai taman bunga, air mancur, dan kantin. Namun, yang dikedepankan tentu saja tetap pelayanan yang ramah dan bersahabat.

Kehadiran fungsi rekreasi ini akan membantu memberikan kesan puas dan refresh pada pemustaka setiap kali berkunjung. Para pengunjung diharapkan tidak hanya gembira berhasil menggali informasi, tapi juga merasa nyaman, gembira, senang, terhibur, segara, dan mempunyai kenangan berkunjung ke perpustakaan. Kenyamanan tersebut juga berperan pada tingkat konsentrasi pengunjung saat berusaha menangkap materi demi materi yang dibaca atau ditontonnya di perpustakaan.

Namun, sampai saat ini fungsi rekreasi perpustakaan belum mendapatkan perhatian serius. Kurangnya perhatian tersebut terlihat dari ketidakberagamannya koleksi, sarana dan prasarana perpustakaan yang tidak memadai, ketidakprofesionalan pengelolaan, sampai suasana yang begitu formal dan sikap tak bersahabat dari para pengelola. Bahkan, tak jarang, sekembalinya dari perpustakaan pengunjung justru membawa rasa dongkol karena tidak puas dengan pelayanan. Padahal, diharapkan fungsi tersebut akan mendongkrak angka kunjungan perpustakaan.

Terlepas dari itu semua, berhasil tidaknya fungsi rekreasi ini kembali pada kualitas pengelolaan perpustakaan. Perpustakaan yang sudah dirancang sedemikan rupa tidak akan pernah berarti tanpa pengelolaan yang profesional dan sadar akan ke-rekreasi-an. Seperti yang kita ketahui, telah banyak propaganda mengenai buku, perpustakaan, dan peningkatan budaya baca. Propaganda-propaganda tersebut kerap hanya dianggap angin lalu, tak membekas di benak para siswa. Pengembangan fungsi rekreasi ini diharapkan menjadi model lain (baru) propaganda atas kunjungan ke perpustakaan.

Peningkatan Kemampuan Berbahasa Siswa

Kemampuan berbahasa terdiri atas empat aspek, yaitu membaca, menulis, mendengar, dan berbicara. Keempat kemampuan tersebut hakikatnya berjalin-kelindan dan kualitasnya berpusat (bergantung) pada kegiatan membaca, dan mendengar (penerimaan informasi). Dengan membaca dan mendengar, seseorang mendapatkan informasi sebagai bahan untuk berbicara dan menulis.

Dari keempat aspek di atas, menulis merupakan ketrampilan berbahasa paling tinggi. Menulis bisa diartikan wujud dari peran aktif seseorang untuk memberikan informasi dari berbagai sumber. Tentu saja sumber-sumber informasi dapat diakses secara cepat dengan cara membaca. Hernowo (2003: 6) mengungkapkan bahwa kegiatan membaca dan menulis yang dipola dengan cara-cara tertentu dan dibiasakan akan membantu mengurai-diri, membuat kita terbuka dan dapat dikenali sis-sisi uniknya. Siswa, notabene remaja yang kaya potensi, melalui kegiatan membaca dan menulis potensi yang dimiliki akan lebih mudah dikembangkan. Bagi siswa, cara paling mudah dan murah untuk untuk mengakses sumber informasi adalah dengan berkunjung ke perpustakaan sekolah.

Namun, pentingnya membaca bagi sebagian orang tetap berperan relatif. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang esensial. Perpustakaan sebagai media transformasi ilmu pengetahuan telah (seharusnya) menghadirkan berbagai media untuk kegiatan mendengarkan, membaca, bahkan menulis. Peningkatan kunjungan ke perpustakaan sebagai dampak positif pengelolaan fungsi rekreasi perpustakaan, diharapkan berpengaruh positif pula pada peningkatan aktivitas membaca, mendengar, hingga berbicara dan menulis. Dengan meningkatnya aktivitas itu semua, diyakini kemampuan berbahasa siswa (pengunjung perpustakaan pada umumnya) pun meningkat sesuai dengan minat dan bakatnya.

Sayangnya, perpustakaan sekolah belum banyak dijadikan tempat favorit untuk dikunjungi. Perpustakaan sekolah umumnya berisi buku-buku pelajaran, majalah-majalah lama, koleksi album foto yang mulai buram, serta tempelan gambar yang kusam dan tak pernah diganti. Semua itu seolah menambah sesak setelah sekian waktu berkutat dengan pelajaran. Di sinilah peran penting fungsi rekreasi perpustakaan menjadi begitu bermakna.

Seperti yang banyak diungkapkan bahwa belajar harus menyenangkan, demikian pula dengan membaca. Membaca di perpustakaan yang nyaman dengan banyak pilihan buku akan membawa kesegaran bagi siswa sebelum kembali ke kelas. Apalagi dengan keterbatasan waktu, fungsi rekreasi perpustakaan menjadi poin tersendiri. Paling tidak perpustakaan akan masuk daftar tempat yang dikunjungi saat istirahat selain kantin dan kamar mandi.

Boleh jadi hal ini baru sekadar mimpi, PDII LIPI mengungkap hal tersebut bergantung politik pengambil kebijakan dan pengembangan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang kepariwisataan. Tanpa kedua hal itu, mimpi tersebut hanya akan berakhir ketika si tidur terjaga.

Referensi

  1. Bafadal, Ibrahim. 1996. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
  2. Hernowo. 2006. Quantum Reading, Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Potensi Membaca. Bandung: Mizan Learning Center.
  3. http://www.pdii.lipi.go.id, Pengembangan Fungsi Rekreasi di Perpustakaan, diunduh tanggal 22 Mei 2008 Pukul 12.15 WIB.
    Tim Redaksi. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
  4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.
Iklan

Filed under: Bahasa Indonesia, Catatan,

2 Responses

  1. Sabjan Badio berkata:

    Memang, fungsi rekreasi harus ditingkatkan, agar pengunjung perpustakaan semakin meningkat.

  2. […] http://www.pdii.lipi.go.id, Pengembangan Fungsi Rekreasi di Perpustakaan, diunduh tanggal 22 Mei 2008 Pukul 12.15 WIB. Tim Redaksi. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: