Media Aksara

Catatan Guru Bahasa

Bangsa yang Boros

Oleh Siska Yuniati

Penduduk Indonesia indentik dengan perilaku boros. Karena itu pulalah, pepatah besar pasak daripada tiang pernah populer di negeri ini. Sekarang, pepatah itu sudah tidak populer dan dianggap kuno. Mengapa? Apakah rakyat Indonesia sadar bahwa boros bukan perilaku yang bijak? Sebaliknya, kita menganggap perilaku boros, hedonis, bahkan tidak jujur menjadi sesuatu yang biasa. Lihat saja orang-orang berduit, banyak yang menghambur-hamburkan uang, untuk membeli pakaian saja harus ke luar negeri.

Ternyata, masalah boros ini tidak hanya berlaku soal uang. Kita juga relatif boros dengan kata-kata. Dalam satu sisi, hal itu dianggap positif, karena itulah bangsa kita pernah dijuluki sebagai bangsa yang ramah. Segi negatifnya adalah terlalu banya menggunjing, mencela, dan mengeluarkan kata-kata yang tak bermanfaat, selain boros kata juga boros waktu.

Coba perhatikan, di tengah-tengah kita ada istilah tumpang tindih, ada frasa hanya kita saja, kita semua, dan sebagainya. Tumpang dan tindih artinya mengacu pada sesuatu yang terdiri atas dua atau lebih yang ditempatkan secara bertumpuk, satu di bawah dan yang lainnya di atas. Hanya satu yang bermanfaat dari kedua kata tersebut. Kata hanya dan saja juga mengacu pada hal yang sama yaitu pembatasan, hanya kita berarti membatasi bahwa selain kita tidak termasuk begitu juga dengan kita saja. Karena itu, hanya atau saja harus dihilangkan salah satu. Sementara mengenai kita semuanya adalah frasa yang mbingungi, kita berarti tidak semuanya, mereka tidak termasuk sementara semua, aku, kita, mereka, tak terkecuali. Oleh karena itu, untuk membatasi pada kelompok kita, semua harus dihilangkan sementara kalau yang dimaksudkan keseluruhan tak terkecuali berarti kata kita tidak bermanfaat.

Namun, dalam keadaan tertentu keborosan seperti ini dimaklumi bahkan menjadi wajib. Kita lihat saja karya sastra khususnya novel. Di dalamnya akan kita temui kata atau kalimat yang bertele-tele. Sastrawan Ahmat Tohari bahkan menghabiskan berlembar-lembar hanya untuk menceritakan musim kemarau. Namun, tetap saja ada batasan-batasan tertentu yang dibingkai dalam suatu yang namanya gaya bahasa. Misalnya, kata tumpang tindih kerap dipakai dalam sastra, hal ini untuk menegaskan atau memberikan efek yang lebih dramtis terhadap cerita.

Berikut beberapa kata yang kerap digunakan dan menunjukkan indikasi keborosan.

NO BOROS SEHARUSNYA KETERANGAN
1. tumpang tindih tumpang atau tindih tumpang dan tindih mengacu pada arti yang sama
2. hanya kita saja hanya kita atau kita saja hanya dan saja mengacu pada arti yang sama
3. Sungai Bengawan Solo Bengawan Solo bengawan artinya sungai
berbeda kasusnya jika bengawan berstatus sebagai nama seperti Bank BRI (B pada BRI merupakan singkatan dari bank
4. Posko SabjanBadioCenter Posko Sabjan Badio atau SabjanBadioCenter Posko danCenter mengacu pada maksud yang sama. Tulisan seperti ini banyak muncul pada Pemilu Legislatif lalu

Saya yakin masih banyak yang belum terdata. Untuk itu, saya tunggu partisipasi pembaca sekalian untuk melengkapinya.

Iklan

Filed under: Bahasa Indonesia, Catatan,

One Response

  1. Sabjan Badio berkata:

    Blogger juga boros, kan?. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: