Media Aksara

Catatan Guru Bahasa

Menulis itu Mudah

Oleh Siska Yuniati

Siapa bilang menulis itu sulit? Banyak orang berdalih bahwa menulis pekerjaan yang sulit, jadi mereka dengan enteng mengatakan bahwa mereka tidak bisa menulis. Banyak di antara yang lain berdalih bahwa mereka sibuk, tidak ada waktu untuk menulis, jadi dengan enteng pula mereka menolak untuk mulai menuangkan ide-idenya. Sementara itu, beberapa yang lain berdalih masalah fasilitas, tidak ada komputer lah, tidak ini itulah, jadi dengan mudah pula mereka menolak untuk segera menulis.

Apakah Anda pernah mendengar tentang JK Rowling? Dia adalah penulis novel best seller Harry Potter. Jangan ditanya berapa eksemplar novel-novelnya yang telah dibeli. Jangan ditanya pula berapa miliar royalti yang telah diterimanya. Yang harus ditanya adalah bagaimana dia menulis novel tersebut, benarkah dia tidak sibuk? Benarkah fasilitasnya lengkap? Benarkah dia sudah pintar menulis sedari lahirnya?

Sekelumit kisah tentang perempuan penulis itu yang sempat saya baca, bahwa sesungguhnya dia adalah wanita miskin. Selain miskin, dia adalah seorang janda. Untuk menulis, dia tidak punya banyak modal. Dia tidak punya laptop yang bisa dijinjingnya ke mana-mana, dia juga tidak punya asisten yang siap menulis semua ide-idenya. Tulisan-tulisannya justru banyak dihasilkan dan dituangkan di kertas tisue. Saat menulis pun dia kerap hanya ditemani oleh secangkir kopi, karena hanya itulah yang dapat dibelinya waktu itu. Masalah transportasi? Jangan dibayangkan keadaannya seperti sekarang, waktu itu wanita luar biasa itu hanyalah salah satu pengguna transportasi umum, sama seperti Anda. Bahkan, mungkin jauh lebih miskin dan menderita tinimang kehidupan Anda.

Semua keterbatasan itu, kemudian membuktikan JK Rowling bisa menulis. Perjuangan selanjutnya adalah pertarungannya di hadapan penerbit. Penerbit yang didatanginya tidak semerta-merta menerbitkan karyanya. Banyak hal yang harus dilaluinya hingga sampai ke tangan Penerbit Bloomsbury, di antaranya, Harry Potter telah ditolak oleh delapan penerbit. Sekarang, Anda dapat menyaksikan apa yang terjadi dengan semua seri Harry Potter.

Itu sekelumit cerita tentang Harry Potter. Anda juga mungkin pernah mendengar cerita tentang Pramoedya Ananto Toer? Dia adalah salah seorang tahanan politik pada masa Orde Baru. Selama ditahan di pulau buru, Pramoedya menceritakan cerita-ceritanya langsung ke rekan-rekan sesama tapol. Atas usaha beberapa orang, akhirnya Pramoedya berhasil mendapatkan kertas semen untuk tempat menulis. Apa yang Anda bayangkan dengan situasi ini? Lalu, novel-novel yang berketebalan ratusan halaman, bahkan novel Arus Balik mencapai lima atau enam ratusan halaman (kalau tidak salah), diketik oleh Pramoedya dengan mesik ketik yang dapat Anda bayangkan sendiri kondisinya. Dengan berbagai keterbatasan tersebut, patutlah diberitakan bahwa Prameodya adalah satu-satunya kandidat peraih hadiah Nobel dari Indonesia.

Dari kedua cerita tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa keterbatasan bukanlah masalah dalam menulis. Keterbatasan itu hanya akan menjadi masalah ketika dia sudah menghantui pikiran Anda. Dengan kata lain, pikiran Andalah yang terbatas. Saya kira siapa pun akan tersinggung jika dikatakan pikirannya terbatas. Oleh karena itu, jika tidak ingin dikatakan demikian, ya segeralah menulis. Menulislah, karena hanya dengan menulis sajalah Anda akan menjadi penulis!

Iklan

Filed under: Catatan,

2 Responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

Sedang Online

%d blogger menyukai ini: